Butuh Perhatian WHO : Penanganan Pasien Covid Comorbid, dan Inovasi Medis Asli Indonesia

 

Penulis : Kurniawan 
(Pengusaha Blora)


BLORA, 16/1 (PortalBlora.com) - Berikut macam - macam penyakit penyerta (Comorbid) yang wajib diketahui dan bahayanya bagi pasien covid.  

Reaksi anafilaksis (syok alergi berat)

Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu.

Akibatnya, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran. Dengan pasien seperti ini dan infeksi covid bisa memperparah penyerapan oksigen oleh darah, sehingga pasien mengalami kekurangan oksigen yang sangat berakibat fatal.

Bila kekurangan oksigen terjadi di fungsi otak, Sel sel otak sangat rentan terhadap perubahan pasokan oksigen. Jika terjadi gangguan pasokan oksigen ke otak untuk jangka waktu lama, dapat menyebabkan koma atau kematian.

Alergi obat 

Alergi ini disebabkan oleh reaksi sistem imun terhadap zat kimia pada obat-obatan. Jika sistem imun bereaksi tidak baik pada obat, tubuh akan membuat antibodi dan hal inilah yang menyebabkan seseorang alergi pada obat. 

Pelepasan histamin saat mengalami alergi obat akan memunculkan beragam gejala, seperti, Ruam atau bentol-bentol di kulit, gatal-gatal di kulit, mata terasa gatal atau berair. 

Pada kondisi yang lebih parah sistem imun bisa membuat seorang pasien mengalami gangguan pernafasan dan kerusakan serta gagal organ. 

Pasien seperti ini bisa menjadi lebih parah dengan terjangkitnya covid, karena pasien jenis ini butuh penanganan yang ektra terhadap zat kimia obat-obatan, agar tidak memicu kondisi komplikasi yang komplek yang bisa berakibat kematian.

Alergi makanan

Alergi yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu. Gejalanya bisa meliputi mual dan muntah, pembengkakan di wajah, sesak napas, sampai hilang kesadaran. 

Pasien jenis ini jika terinfeksi covid sangat berbahaya sebab asupan gizi yang di butuhkan pasien harus di pertimbangkan secara penuh. 

Kondisi di mana pasien alergi makanan tertentu membuat immun tubuh pasien menurun drastis sehingga bisa memicu keracunan organ pada pasien, hal utama alergi makanan ini berpengaruh sangat besar pada kandungan darah dan bisa memicu tingkat protein yang tinggi pada darah pasien. Hal ini terkait dengan kemampuan darah mengikat oksigen sehingga memicu gagal organ pasien.

Asma bronkial

Penyakit ini dapat menyebabkan jalan napas paru membengkak (edema) dan menyempit, sehingga jalur udara menghasilkan lendir yang berlebihan. 

Dengan terjangkitnya covid pada pasien ini akan mengurangi secara signifikan tingkat penyerapan oksigen oleh paru, efek bahayanya adalah fungsi organ dan otak kekurangan oksigen hingga gagal jantung akibat kerja jantung yang ekstra keras. 

Rhinitis 

Radang dan iritasi yang terjadi di membran mukosa didalam hidung, menyebabkan hidung menjadi tersumbat, yang mengakibatkan terjadinya hambatan pada sinus. 

Sehingga jumlah oksigen yang masuk pada paru-paru berkurang secara signifikan, pada pasien covid dengan penyakit penyerta ini akan menjadi lebih parah saat suplai udara melalui saluran pernafasan yang bekurang, sehingga memperkecil volume jumlah udara dan kadar oksigen yang mampu diserap oleh jarigan alveoli

HIV / AIDS (ODHA)

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah gangguan yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit. 

Sampai saat ini, HIV belum bisa disembuhkan. Pada kasus pasien HIV ini infeksi virus lain seperti covid bisa menyebabkan tingkat kematian yang tinggi sebab penderita HIV sendiri adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh secara permanen, kematian bisa terjadi dari efek infeksi virus hingga tahap lanjutan dengan kegagalan fungsi organ.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), TBC, kanker paru, dan penyakit paru akut lainnya.

Pasien covid dengan penyertaan penyakit bawaan penyakit paru akut akan memperparah penyerapan oksigen oleh paru dan berdampak pada suplai kebutuhan oksigen yang di butuhkan organ kita terutama otak, karena hal ini seperti telah diterangkan di bagian atas bahaya otak yang kekurangan oksigen bisa memicu kematian dan kerusakan fungsi otak secara permanen.

Penyakit hati / gangguan hati

Organ hati memiliki sejumlah fungsi penting, antara lain membuang racun dari dalam tubuh, membantu proses penggumpalan darah, serta membantu tubuh melawan infeksi. 

Pada kondisi kerusakan hati terdapat beberapa penyebab dan tingkat kerusakan yang berbeda pada tahap terparah gangguan hati ini di sebut sirosis. 

Menilik fungsi hati yang mampu membuang racun, dan melawan infeksi dalam tubuh kita penderita covid dengan sakit penyerta gangguan hati  sangat berbahaya di tinjau dari berbagai aspek, dimana pasien covid mendapat treatment obat  yang intensif dari pihak medis, hal ini bisa menjadi efek negatif, sementara tubuh kehilangan fungsi hati yang mengurangi kemampuan tubuh melawan infeksi adalah kondisi dimana hal ini sangat buruk bagi pasien.

Diabetes mellitus

Mengutip laman American Diabetes Association, infeksi virus, termasuk di antaranya SARS-CoV-2, dapat meningkatkan peradangan atau pembengkakan internal pada pengidap diabetes. 

Hal ini juga dapat disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi dan membuat peradangan dapat menyebabkan komplikasi yang parah. Saat terinfeksi virus, pengidap diabetes akan menghadapi peningkatan risiko ketoasidosis diabetik (DKA), yang umumnya dialami oleh pengidap diabetes tipe-1.

DKA merupakan komplikasi diabetes yang ditandai dengan tingginya kadar keton di dalam tubuh. DKA dapat mempersulit pengelolaan asupan cairan dan kadar elektrolit yang penting dalam menangani sepsis. Sepsis sendiri merupakan komplikasi serius yang dialami beberapa pasien Covid-19.

Obesitas 

Penelitian menemukan bahwa obesitas mempengaruhi sistem imun sebagai berikut: Menurunkan produksi sitokin Fungsi monosit dan limfosit berubah Disfungsi sel natural killer Fungsi makrofag dan dendritik menurun Respon terhadap stimulasi antigen menurun. 

Setelah terjadi berbagai respons imun yang telah disebut di atas, tubuh akan mulai menunjukkan beberapa efek dari disfungsi imun tersebut yang muncul sebagai sindrom metabolik sebagai berikut, Penyakit kardiometabolik, hipertensi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, trigliserida tinggi, kolesterol HDL rendah 

Fungsi paru menurun, saturasi oksigen menurun, risiko fibrosis pada jaringan paru Penyakit jantung, kardiomiopati gangguan ginjal (proteinuria, hipertropi glomenular) 

Gangguan pembuluh darah, ketidakseimbangan antara agen vasodilator dan vasokonstriktor, trombosis, dan inflamasi pada pembuluh darah.

Sehingga obesitas berpotensi menimbulkan gejala berat ketika terinfeksi suatu penyakit. Hal ini disebabkan karena sistem imunnya tidak cukup baik untuk membentuk antibodi dalam melawan penyakit tersebut. 

Begitu pula dengan infeksi Covid-19, orang dengan obesitas berpotensi mengalami gejala yang lebih berat daripada orang dengan berat badan normal.

Tiroid 

Beberapa kondisi yang menjadi penyebab dan pemicu munculnya penyakit tiroid, antara lain, kekurangan yodium (iodium). 

Peradangan pada kelenjar tiroid atau tiroiditis dan faktor genetic. Gangguan tiroid tergolong sebagai kondisi medis yang akan menyertai Anda seumur hidup. 

Hanya saja, pengobatan tetap penting dilakukan untuk menjaga kualitas hidup pengidap penyakit ini. Namun tanpa penanganan yang tepat, gangguan kelenjar tiroid bisa berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan bukan tidak mungkin gangguan tiroid bisa menyebabkan kematian. 

Pada pasien covid dengan penyakit penyerta tiroid yang merupakan penyakit hormonal, harus mendapat perhatian khusus sebab tiroiditis bisa memperparah pasien dan menyebabkan gangguan tiroiditis yang permanen pada fungsi hormonal pasian.

Luka atau kehilangan darah dengan jumlah yang cukup banyak

Pada pasien covid, yang mengalami luka, atau kehilangan darah cukup banyak, atau sebelumnya melakukan donor darah, bisa memicu reaksi anemia pada pasien dan pada kondisi parah bisa memicu Leukopenia yang berhubungan langsung dengan sistem immun yang lemah pada pasien. 

Jika tidak ditangani dengan tepat, leukopenia berpotensi menimbulkan komplikasi serius dan bahkan kematian karena leukopenia akan menyebabkan tubuh rentan terkena infeksi. 

Sementara untuk reaksi Anemia yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, otak, dan organ lainnya dalam tubuh secara permanen.

Ganguan Jantung

Pada pasien dengan gangguan jantung, maka jantung akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan darah dan menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Sementara pada pasien gangguan Jantung, bisa di katakan sistem kerja jantung sudah memiliki kendala dalam memompa secara efisien. 

Kondisi ini tentu saja membebani sistem tubuh secara keseluruhan, bahkan bisa memicu efek yang berbahaya beerupa kematian. Masalah lainnya adalah seorang penderita sakit jantung memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat. 

Pada mereka yang memiliki kondisi medis kronis, respons sistem imun cenderung lemah dalam menghalau virus.

Pada penelitian lanjutan seperti COVID-19, SARS dan MERS juga berpotensi lebih berbahaya pada penderita jantung karena menimbulkan masalah seperti peradangan otot jantung, serangan jantung, dan gagal jantung. 

Bagi orang yang memiliki penumpukan lemak atau plak di pembuluh darah serangan dari virus serupa COVID-19, SARS dan MERS dapat menyerang kondisi plak-plak di pembuluh darah ini, sehingga membuat potensi penyumbatan pembuluh darah semakin besar dan mengganggu aliran darah ke jantung. Hal ini tentu menimbulkan risiko besar terjadinya serangan jantung.

Penyakit DB dan DBD

Pasien dengan trobisit rendah, di mana di ketahui Trombosit memiliki peran penting dalam proses pembekuan darah (koagulasi) saat tubuh terluka. 

Tepatnya, trombosit akan membentuk sumbatan bersama benang fibrin guna menghentikan perdarahan, sekaligus merangsang pertumbuhan jaringan baru di area luka, yang sangat penting untuk mengatasi infeksi pada organ tubuh kita. 

Pasien covid dengan DB atau DBD di pastikan mengalami  koinfeksi antara arbovirus / dengue virus dan coronavirus, bahaya koinfeksi sendiri pada pasien denngan nilai trobosit yang rendah bisa berkibat kematian, karena koinfeksi menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan virus.  

Bahaya yang lain lagi coronavirus yang menurunkan kemampuan paru menyerap oksigen, sementara arbovirus / dengue virus menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah yang pada kondi parah akan mengakibatkan perdarahan, dan bisa berakibat gagal organ dan kematian.

Gagal ginjal 

Penderita gagal ginjal akut perlu mendapatkan perawatan dari dokter di rumah sakit. Selama perawatan, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk membatasi asupan garam serta kalium, memberikan obat-obatan untuk memperbaiki fungsi ginjal, dan menjalani cuci darah. 

Pada pasien gagal ginjal ini seperti kita ketahui bersama bahwa pasien gagal ginjal mebutuhkan perlakuan khusus sebab fungsi ginjal mengalami penurunan pelakuan khusus ini menyangkut jenis obat bahkan asupan makanan dan minuman pada pasien. 

Pasien covid dengan penyerta gagal ginjal pun bisa mengalami koinfeksi bahkan mengalami suatu reaksi toksisitas oleh asupan makan, dan obat-obatan yang bisa mengancam jiwa pasien.

Dari berbagi jenis pasien penderita covid dan variasinya penyakit penyerta, semua mebutuhkan perhatian khusus guna menekan tingkat imortalitas pasien penderita covid.

Hal yang tak bisa di pungkiri lainnya adalah perhatian lanjutan setelah pasien penderita covid pulih, karena organ paru-paru kita bekerja terus menerus di lingkungan yang berbeda sehingga jaringan baru dari sisa infeksi covid menjadi kuat dan terbentuk immun. 

Pada teknik pengobatan infeksi covid pada paru-paru selama ini yang berkembang adalah teknik pengobatan hormonal secara injeksi ataupun oral, tanpa memperhatikan kemungkinan perawatan organ paru-paru itu sendiri secara fisik. 

Dengan kata lain perawatan fisik organ pada penederita covid tidak mendapat perhatian secara nyata. Pada luka infeksi perhatian nyata dengan  merawat organ secara nano micron dan mencegah infeksi oleh virus, bakteri, jamur, dan lainnya adalah inovasi baru yang memungkinkan di lakukan dengan obat AVVR-19. 

Teknik dan inovasi medis senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan penyakit, semoga AVVR-19  yang merupakan inovasi milik bangsa Indonesia ini bisa menjadi perhatian dunia dan WHO, dan menambah kekayaan intelektual di dunia medis. 

AVVR-19 bisa di implementasikan bersama obat hormonal lainnya untuk meningkatkan efektifitas dan mempercepat periode penyembuhan pasien. (Deny- red)









0 komentar:

Posting Komentar